MEDAN – Anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Dr. H. Ahmad Darwis, S.Ag., M.A., mengajak mahasiswa memperkuat moderasi beragama guna menangkal polarisasi dan menjaga integrasi nasional. Ajakan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber utama dalam Seminar Nasional bertajuk “Dialog Harmoni dalam Keberagaman: Implikasi Moderasi Beragama terhadap Integrasi Nasional” yang diselenggarakan di Medan, Kamis (29/10/2026). Ia menekankan bahwa penguatan sikap kritis, toleransi, dan budaya dialog merupakan langkah penting untuk mencegah perpecahan serta merawat persatuan di tengah kemajemukan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Ahmad Darwis menegaskan bahwa moderasi beragama tidak berarti mengurangi keyakinan seseorang terhadap agama yang dianutnya. Moderasi justru mencerminkan cara pandang dan perilaku beragama yang adil, seimbang, serta menghormati perbedaan tanpa mengesampingkan prinsip keyakinan masing-masing.
Ia menilai mahasiswa memiliki posisi strategis dalam menjaga keharmonisan kehidupan berbangsa. Sebagai kelompok intelektual muda, mahasiswa tidak cukup hanya memahami keberagaman secara konseptual, tetapi juga perlu menunjukkan sikap dewasa dalam menyikapi perbedaan pandangan, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat.
“Mahasiswa harus menjadi garda terdepan yang cerdas dalam menolak segala bentuk polarisasi. Moderasi beragama menjadi salah satu benteng untuk menjaga keutuhan integrasi nasional di tengah keberagaman,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ahmad Darwis mengingatkan bahwa kemajemukan agama, suku, budaya, dan pandangan merupakan realitas bangsa Indonesia yang harus dirawat sebagai kekuatan bersama. Perbedaan tidak semestinya melahirkan sekat permusuhan, melainkan menjadi landasan untuk memperkuat persaudaraan dan solidaritas sosial.
Perhatian khusus juga disampaikannya terhadap maraknya informasi dan narasi provokatif di ruang publik maupun media sosial. Ia mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh konten yang sengaja mengeksploitasi perbedaan pilihan politik, pandangan keagamaan, dan kepentingan kelompok untuk memecah belah masyarakat.
Dalam konteks tersebut, kemampuan berpikir kritis dan budaya dialog perlu terus dikembangkan. Sikap saling menghormati, menurutnya, menjadi modal penting untuk menyelesaikan perbedaan secara damai sekaligus mencegah berkembangnya intoleransi di tengah masyarakat. Komitmen tersebut harus diwujudkan melalui perilaku sehari-hari sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Seminar nasional tersebut dibuka oleh Dekan Fakultas Agama Islam (FAI), Dr. Rahmadi Ali, S.Pd.I., M.Pd.I. Dalam sambutannya, ia menyoroti pentingnya membangun lingkungan perguruan tinggi yang inklusif dan toleran sebagai ruang pembentukan karakter generasi muda.
Selain Ahmad Darwis, kegiatan ini menghadirkan H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan dari Kementerian Agama yang mengulas implementasi moderasi beragama di tengah masyarakat, terutama dalam membangun kerukunan umat dan menjaga stabilitas sosial.
Perspektif pendidikan disampaikan Dr. Haidar, M.Pd., dosen Fakultas Agama Islam. Ia membahas kontribusi perguruan tinggi dalam menanamkan nilai toleransi dan moderasi beragama melalui proses pembelajaran.
Melalui seminar ini, peserta diharapkan mampu menerjemahkan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam kehidupan nyata, bukan sekadar memahaminya sebagai konsep akademis. Peran aktif mahasiswa dalam menjaga kerukunan, membangun dialog, dan menolak provokasi menjadi bagian penting dalam merawat kemajemukan serta memperkokoh persatuan bangsa.
Sumber: Waspada, November 2026


Leave a Reply